Perkenalan Dengan Internet #5 (Indonet ISP pertama Indonesia)
Akhirnya setelah berbulan2, nyambung juga seri tulisan tentang nostalgia Internet saya. Anggap saja habis libur “season ke 1″, sekarang masuk ke season 2.
Di cerita bersambung nomor #4 tempo hari cerita saya berakhir setelah munculnya stand ISP untuk pertama kalinya di pameran komputer (gak inget nama pamerannya), yaitu Indonet di sekitar September 1994.
Saat itu stand Indonet bisa dikatakan sederhana ketimbang stand2 produsen PC yg merajai pameran tersebut. Kira2 tersedia tidak lebih dari 6 PC yang menampilkan tampilan terminal (warna monochrome biru & putih) di windows 3.11. Ada screen yg menampilkan aplikasi email dgn menggunakan Pine, web browser text-based Lynx, usenet, IRC dan lain-lain yg sekilas buat orang awam pasti kurang menarik untuk dikunjungi.
Tapi kalo saya lihat sekilas banyak juga orang2 yg cukup faham Internet datang ke stand itu untuk tanya2 hal2 teknis. Mungkin mereka adalah segelintir orang yang selama ini menanti2 adanya ISP di Indonesia dan/atau sebelumnya pernah menggunakan Internet dari luar negeri.
Mumpung saya datang ke sana, maka sekalian saya daftar free-trialnya, mereka memberikan saya CD dan manual instalasi & penggunaan. Untuk rata2 orang yg daftar juga sekalian dipaketkan dengan membeli modem.
Sampai rumah iseng2 saya coba dial ke indonet untuk dites. Terus terang, saya gak ngerasain “orgasme” sama sekali dengan Indonet, karena lambat, sulit interfacenye, line telfon dial-upnya sering penuh dan terminal mode yg membosankan (masih mendingan tampilan VT220-nya software BBS) buat saya yg sudah sehari2 menggunakan PPP dial-up dan sudah mengumpulkan berbagai macam graphical web browser seperti Netscape Mosaic 1.0, NCSA Mosaic for Windows, WinWeb, O’Reilly Enhanced NCSA Mosaic, dll.
Di satu kesempatan, saya pernah menyempatkan diri berkunjung ke kantor Indonet di bilangan Rawamangun, untuk alasan yg saya gak ingat persisnya (padahal saya sebetulnya sudah ilfil dgn Indonet). Saya sempat nyasar juga mencari alamatnya, karena memang tidak ada plang nama perusahaan dan bentuk kantornya merupakan bangunan rumah yg sepertinya sudah cukup berumur.
Isi kantornya mungkin berisi tidak lebih dari 10an orang, agak sempit (karena bentuknya kamar2 terpisah seperti layaknya rumah pada umumnya). Saya tanya ke tim teknis di sana, berapa bandwidth mereka, katanya sih 64kbps.. artinya sama dengan dedicated linknya Ipteknet-BPPT.
Kadang2 gak habis pikir kita coba menghitung dan membandingkan, kapasitas link modem saat itu adalah 14,4 kbps, sedangkan ISP yg digunakan bersama2 hanya 64kbps, tapi it worked out… Dari situ cukup sekian pengalaman saya dengan menggunakan Indonet. Tinggal beberapa temen2 yg mulai menggunakan Indonet, seperti temen2 dari Bemonet, karena mereka gak punya pilihan lain.
Akhirnya kembali lagi deh ke TCPman.exe tercinta… ATZ…. ATDT380xxxx (nomor telfon dialin bppt).
Tapi bagaimana pun saya salut dengan Pak Sanjaya karena kenekatannya meluncurkan layanan terminal dial-up membuat snowball effect kepada industri ini di tahun2 selanjutnya. Media juga tidak mau ketinggalan mulai memberitakan trend media Internet ini ke khalayak umum hingga berbulan2 berikutnya.