Website Blocking (Sebuah lamunan)

Internet NetworkSudah beberapa hari ini kita mengalami dibloknya beberapa website penting yang berawal dari munculnya video gak mutu itu di Internet. Youtube (website rank #2 versi Alexa) dan MySpace (rank #5) adalah beberapa dari website2 penting yang diblok para ISP atas order Menkominfo. Teman2 blogger menyebutnya ini merupakan tindakan “membunuh nyamuk dengan meriam”, tapi kalo menurut saya lebih tepatnya disebut “membunuh nyamuk dengan meriam, rumah kita rubuh, dan nyamuknya ngeles gak kena meriam”.

Kenapa begitu? Ya karena kepentingan2 kita yang lainnya berantakan (banyak yg mengandalkan kepentingan ekonominya dari web2 tersebut), sementara kita tau Video itu tetap exist di website lain, bisa dikirim lewat email, kita bisa by-pass bloking itu menggunakan proxy external, dan cara2 ini sudah tersebar luas kepada orang2 awam via email di hari pemblokiran itu juga.

Ini baru urusan 1 video, dan kita tidak tahu berapa lama bloking ini berlangsung. Apabila tidak dihapus dari website2 itu apakah blokingnya akan bersifat permanen?

Bagaimana kalau besok2 ada orang2 lain yang membuat pelecehan Islam dalam bentuk gambar2 (jpg/gif, dll) atau dalam bentuk tulisan (html) yang bisa diposting di website manapun? Bagaimana kita mengatasinya dengan cara bloking menggunakan teknologi termutakhir, yaitu memblok konten2 yg kita mau saja, tanpa memblok konten yg lainnya? Kayaknya solusi itu koq belum ada ya.

Mengacu pada sejarah, Internet sejatinya memang didesain sedemikian rupa untuk mengantisipasi adanya gangguan telekoneksi dengan menggunakan konsep jaringan redundan, karena itulah kenapa DoD dulu tertarik untuk berinvestasi di ARPAnet (menjadi DARPAnet), karena mereka gak mau network tersebut down dalam kondisi perang terburuk pun. Hari ini konsep itu makin diperkuat dan dibuktikan dengan munculnya layanan distributed networking seperti aplikasi P2P seperti Napster dan BitTorent atau munculnya penyedia jasa Content Delivery Network (CDN) seperti Akamai, Digital Island, Limelight Network, dll yang menggabungkan kekuatan ribuan servernya yang tersebar di seluruh dunia untuk keperluan backup link dan peningkatan kualitas pengiriman konten2 multimedia ke seluruh titik di bumi ini.

Di lihat dari lapisan penggunanya, dengan mengusung konsep partisipasi user yang menjadi bagian dari trend Web 2.0, maka website-website sekarang saling berlomba2 untuk menjadi yang terpopuler dengan senjata inovasi teknologi uniknya dan menggunakan kekuatan membernya untuk mengisi konten di website tersebut. Sebut saja youtube, friendster, myspace, blogger dan lain2. Tanpa ada member yang mengisi konten di dalamnya, website tersebut tentunya akan kosong dan mati.

Problem yg kita hadapi ini bersumber dari manusianya (user) dan konten (video) yang mereka sebar, jadi bukan websitenya yang salah. Website hanya menyediakan fasilitasnya. Masih banyak website2 lain yg menyediakan fasilitas yang sama, dan manusia2 (user2) negatif tersebut bisa tetap menyebarkan konten itu ke tempat lain.

Sebetulnya dengan fakta2 yang gamblang di atas, mestinya setiap orang harusnya faham bahwa Internet masih sulit untuk dikontrol secara teknologi, apalagi kalo kita coba mengukur SDM IT kita dibanding Amerika atau Eropa yang masih jauh tertinggal. 

Dari aspek hukum, selama website yg menjadi target bukanlah badan hukum Indonesia, rasanya akan sulit (kalau tidak impossible) bagi negara dunia ketiga seperti kita untuk mendikte suatu badan hukum dari negara2 maju.

Satu2nya cara kita menghadapi user dan konten negatif yg tersebar di Internet hanya melalui cara2 socio-culture, yaitu menggunakan cara2 yang sama yang telah digunakan oleh lawan kita untuk membalas konten mereka dengan konten yang positif.

Sekadar omong2 ngasal, negara bisa membiayai suatu kampanye balasan dengan menciptakan konten video tandingan dengan tenaga bantuan ulama2 kita untuk merumuskan kontennya, lalu videonya diproduksi oleh designer/animator professional, setelah itu menggunakan tenaga para aktifis Internet kita baik itu para blogger, hacker & cracker untuk menyebar luaskan video tandingan itu ke seluruh penjuru Internet, kalau perlu kita gabungkan kekuatan dengan negara2 muslim lainnya. Dengan sendirinya video tandingan itu akan menyebar di Internet dan diharapkan akan mengalahkan pamor dan kuantitas video negatif itu dalam waktu singkat.

Cara ini bukan hal yang baru. Internet memang sudah seperti ini dari awal berdirinya. Di awal 90-an “perang” antar negara bahkan berlangsung selama bertahun-tahun, yaitu perdebatan tentang Timor-Timur di forum Usenet antara Indonesia dan Portugal, lalu “perang perebutan channel IRC” antara Indonesia dan Malaysia. Apakah kedua negara ikut2an ribut di Internet, jelas tidak… ini merupakan aksi idealisme masing2 rakyatnya. 

Blogger2 (warga komunitas Internet Indonesia) kita, bukan hanya pribadi2 yang mewakili Indonesia dalam hal keahliannya di bidang teknologi informasi, tapi juga selaku warga Internet yang menjadi ujung tombak Indonesia di mata dunia. Mereka warga bangsa yg memiliki idealisme yang tinggi, kritis, tapi tetap dapat beradaptasi dengan globalisasi yang dihadapi tiap hari. Mereka adalah warga negara pilihan yang diharapkan bisa menjadi asset bangsa yang bisa mengantar bangsa ini untuk berhasil di era globalisasi, karena Internet adalah alat dari globalisasi yang memiliki potensi ekonomi yang sangat besar dan terus meningkat pesat kedepannya. Blogger mau tidak mau harus dibina dengan baik oleh kementrian kominfo ini, untuk mengimbangi segala tantangan (baca: keterpurukan) yang selama ini dihadapi para kementrian di bidang ekonomi.

Selanjutnya, negara tetap dapat (dan wajib) berpartisipasi dalam menyukseskan kampanye ini dengan cara memasang banner & minisite himbauan untuk mengecam video tersebut, sekaligus menyediakan link video tandingan yang sudah dibuat di semua website2 institusi pemerintahan dan swasta (ISP, portal2 berita dan komunitas Indonesia).

Mudah2an lamunan ini bisa berbuah menjadi solusi yang dapat diterima oleh pemerintah, karena kalau tidak Internet terancam akan masuk ke masa2 “kegelapan”.. Dan sudah begini mungkin saya akan siap2 kembali ke era BBS saja… Apa kabar PCBoard, Wildcat, dll masih ada gak? **hiks**

3 Responses to “Website Blocking (Sebuah lamunan)”

  1. sufehmi

    (sengaja mengutip tidak lengkap :D ) : rasanya akan sulit (kalau tidak impossible) bagi negara dunia ketiga seperti kita untuk mendikte suatu badan hukum dari negara2 maju.

    Ah bisa kok. Lihat saja itu Pakistan memblokir Youtube, tapi akhirnya nyaris terblokir dia di seluruh dunia.

    He he he…

    Di lain pihak; BGP itu memangnya tidak ada security nya ya? Gila juga bisa sampai begitu.

  2. wawang

    Boyke, lamunan yang briliant, nggak heran brilianto jadi last name elo ;-)

    Sebelum di tutup, di youtube banyak juga video tandingan Fitna dan sangat bagus contentnya.

  3. Boyke Bader

    Kalo mau belajar ttg blokir2 secara teknologi setau gw yg jago tuh orang2 Israel.. Untuk celullar jamming, espionage gadgets, dll mereka semua yg bikin.

Leave a Reply