Perkenalan Dengan Internet #5 (Indonet ISP pertama Indonesia)

April 10th, 2008

Akhirnya setelah berbulan2, nyambung juga seri tulisan tentang nostalgia Internet saya. Anggap saja habis libur “season ke 1″, sekarang masuk ke season 2.

Di cerita bersambung nomor #4 tempo hari cerita saya berakhir setelah munculnya stand ISP untuk pertama kalinya di pameran komputer (gak inget nama pamerannya), yaitu Indonet di sekitar September 1994.

Saat itu stand Indonet bisa dikatakan sederhana ketimbang stand2 produsen PC yg merajai pameran tersebut. Kira2 tersedia tidak lebih dari 6 PC yang menampilkan tampilan terminal (warna monochrome biru & putih) di windows 3.11. Ada screen yg menampilkan aplikasi email dgn menggunakan Pine, web browser text-based Lynx, usenet, IRC dan lain-lain yg sekilas buat orang awam pasti kurang menarik untuk dikunjungi.

Tapi kalo saya lihat sekilas banyak juga orang2 yg cukup faham Internet datang ke stand itu untuk tanya2 hal2 teknis. Mungkin mereka adalah segelintir orang yang selama ini menanti2 adanya ISP di Indonesia dan/atau sebelumnya pernah menggunakan Internet dari luar negeri.

Mumpung saya datang ke sana, maka sekalian saya daftar free-trialnya, mereka memberikan saya CD dan manual instalasi & penggunaan. Untuk rata2 orang yg daftar juga sekalian dipaketkan dengan membeli modem.

Sampai rumah iseng2 saya coba dial ke indonet untuk dites. Terus terang, saya gak ngerasain “orgasme” sama sekali dengan Indonet, karena lambat, sulit interfacenye, line telfon dial-upnya sering penuh dan terminal mode yg membosankan (masih mendingan tampilan VT220-nya software BBS) buat saya yg sudah sehari2 menggunakan PPP dial-up dan sudah mengumpulkan berbagai macam graphical web browser seperti Netscape Mosaic 1.0, NCSA Mosaic for Windows, WinWeb, O’Reilly Enhanced NCSA Mosaic, dll.

Di satu kesempatan, saya pernah menyempatkan diri berkunjung ke kantor Indonet di bilangan Rawamangun, untuk alasan yg saya gak ingat persisnya (padahal saya sebetulnya sudah ilfil dgn Indonet). Saya sempat nyasar juga mencari alamatnya, karena memang tidak ada plang nama perusahaan dan bentuk kantornya merupakan bangunan rumah yg sepertinya sudah cukup berumur.

Isi kantornya mungkin berisi tidak lebih dari 10an orang, agak sempit (karena bentuknya kamar2 terpisah seperti layaknya rumah pada umumnya). Saya tanya ke tim teknis di sana, berapa bandwidth mereka, katanya sih 64kbps.. artinya sama dengan dedicated linknya Ipteknet-BPPT.

Kadang2 gak habis pikir kita coba menghitung dan membandingkan, kapasitas link modem saat itu adalah 14,4 kbps, sedangkan ISP yg digunakan bersama2 hanya 64kbps, tapi it worked out… Dari situ cukup sekian pengalaman saya dengan menggunakan Indonet. Tinggal beberapa temen2 yg mulai menggunakan Indonet, seperti temen2 dari Bemonet, karena mereka gak punya pilihan lain.

Akhirnya kembali lagi deh ke TCPman.exe tercinta… ATZ…. ATDT380xxxx (nomor telfon dialin bppt).

Tapi bagaimana pun saya salut dengan Pak Sanjaya karena kenekatannya meluncurkan layanan terminal dial-up membuat snowball effect kepada industri ini di tahun2 selanjutnya. Media juga tidak mau ketinggalan mulai memberitakan trend media Internet ini ke khalayak umum hingga berbulan2 berikutnya.

Website Blocking (Sebuah lamunan)

April 9th, 2008

Internet NetworkSudah beberapa hari ini kita mengalami dibloknya beberapa website penting yang berawal dari munculnya video gak mutu itu di Internet. Youtube (website rank #2 versi Alexa) dan MySpace (rank #5) adalah beberapa dari website2 penting yang diblok para ISP atas order Menkominfo. Teman2 blogger menyebutnya ini merupakan tindakan “membunuh nyamuk dengan meriam”, tapi kalo menurut saya lebih tepatnya disebut “membunuh nyamuk dengan meriam, rumah kita rubuh, dan nyamuknya ngeles gak kena meriam”.

Kenapa begitu? Ya karena kepentingan2 kita yang lainnya berantakan (banyak yg mengandalkan kepentingan ekonominya dari web2 tersebut), sementara kita tau Video itu tetap exist di website lain, bisa dikirim lewat email, kita bisa by-pass bloking itu menggunakan proxy external, dan cara2 ini sudah tersebar luas kepada orang2 awam via email di hari pemblokiran itu juga.

Ini baru urusan 1 video, dan kita tidak tahu berapa lama bloking ini berlangsung. Apabila tidak dihapus dari website2 itu apakah blokingnya akan bersifat permanen?

Bagaimana kalau besok2 ada orang2 lain yang membuat pelecehan Islam dalam bentuk gambar2 (jpg/gif, dll) atau dalam bentuk tulisan (html) yang bisa diposting di website manapun? Bagaimana kita mengatasinya dengan cara bloking menggunakan teknologi termutakhir, yaitu memblok konten2 yg kita mau saja, tanpa memblok konten yg lainnya? Kayaknya solusi itu koq belum ada ya.

Mengacu pada sejarah, Internet sejatinya memang didesain sedemikian rupa untuk mengantisipasi adanya gangguan telekoneksi dengan menggunakan konsep jaringan redundan, karena itulah kenapa DoD dulu tertarik untuk berinvestasi di ARPAnet (menjadi DARPAnet), karena mereka gak mau network tersebut down dalam kondisi perang terburuk pun. Hari ini konsep itu makin diperkuat dan dibuktikan dengan munculnya layanan distributed networking seperti aplikasi P2P seperti Napster dan BitTorent atau munculnya penyedia jasa Content Delivery Network (CDN) seperti Akamai, Digital Island, Limelight Network, dll yang menggabungkan kekuatan ribuan servernya yang tersebar di seluruh dunia untuk keperluan backup link dan peningkatan kualitas pengiriman konten2 multimedia ke seluruh titik di bumi ini.

Di lihat dari lapisan penggunanya, dengan mengusung konsep partisipasi user yang menjadi bagian dari trend Web 2.0, maka website-website sekarang saling berlomba2 untuk menjadi yang terpopuler dengan senjata inovasi teknologi uniknya dan menggunakan kekuatan membernya untuk mengisi konten di website tersebut. Sebut saja youtube, friendster, myspace, blogger dan lain2. Tanpa ada member yang mengisi konten di dalamnya, website tersebut tentunya akan kosong dan mati.

Problem yg kita hadapi ini bersumber dari manusianya (user) dan konten (video) yang mereka sebar, jadi bukan websitenya yang salah. Website hanya menyediakan fasilitasnya. Masih banyak website2 lain yg menyediakan fasilitas yang sama, dan manusia2 (user2) negatif tersebut bisa tetap menyebarkan konten itu ke tempat lain.

Sebetulnya dengan fakta2 yang gamblang di atas, mestinya setiap orang harusnya faham bahwa Internet masih sulit untuk dikontrol secara teknologi, apalagi kalo kita coba mengukur SDM IT kita dibanding Amerika atau Eropa yang masih jauh tertinggal. 

Dari aspek hukum, selama website yg menjadi target bukanlah badan hukum Indonesia, rasanya akan sulit (kalau tidak impossible) bagi negara dunia ketiga seperti kita untuk mendikte suatu badan hukum dari negara2 maju.

Satu2nya cara kita menghadapi user dan konten negatif yg tersebar di Internet hanya melalui cara2 socio-culture, yaitu menggunakan cara2 yang sama yang telah digunakan oleh lawan kita untuk membalas konten mereka dengan konten yang positif.

Sekadar omong2 ngasal, negara bisa membiayai suatu kampanye balasan dengan menciptakan konten video tandingan dengan tenaga bantuan ulama2 kita untuk merumuskan kontennya, lalu videonya diproduksi oleh designer/animator professional, setelah itu menggunakan tenaga para aktifis Internet kita baik itu para blogger, hacker & cracker untuk menyebar luaskan video tandingan itu ke seluruh penjuru Internet, kalau perlu kita gabungkan kekuatan dengan negara2 muslim lainnya. Dengan sendirinya video tandingan itu akan menyebar di Internet dan diharapkan akan mengalahkan pamor dan kuantitas video negatif itu dalam waktu singkat.

Cara ini bukan hal yang baru. Internet memang sudah seperti ini dari awal berdirinya. Di awal 90-an “perang” antar negara bahkan berlangsung selama bertahun-tahun, yaitu perdebatan tentang Timor-Timur di forum Usenet antara Indonesia dan Portugal, lalu “perang perebutan channel IRC” antara Indonesia dan Malaysia. Apakah kedua negara ikut2an ribut di Internet, jelas tidak… ini merupakan aksi idealisme masing2 rakyatnya. 

Blogger2 (warga komunitas Internet Indonesia) kita, bukan hanya pribadi2 yang mewakili Indonesia dalam hal keahliannya di bidang teknologi informasi, tapi juga selaku warga Internet yang menjadi ujung tombak Indonesia di mata dunia. Mereka warga bangsa yg memiliki idealisme yang tinggi, kritis, tapi tetap dapat beradaptasi dengan globalisasi yang dihadapi tiap hari. Mereka adalah warga negara pilihan yang diharapkan bisa menjadi asset bangsa yang bisa mengantar bangsa ini untuk berhasil di era globalisasi, karena Internet adalah alat dari globalisasi yang memiliki potensi ekonomi yang sangat besar dan terus meningkat pesat kedepannya. Blogger mau tidak mau harus dibina dengan baik oleh kementrian kominfo ini, untuk mengimbangi segala tantangan (baca: keterpurukan) yang selama ini dihadapi para kementrian di bidang ekonomi.

Selanjutnya, negara tetap dapat (dan wajib) berpartisipasi dalam menyukseskan kampanye ini dengan cara memasang banner & minisite himbauan untuk mengecam video tersebut, sekaligus menyediakan link video tandingan yang sudah dibuat di semua website2 institusi pemerintahan dan swasta (ISP, portal2 berita dan komunitas Indonesia).

Mudah2an lamunan ini bisa berbuah menjadi solusi yang dapat diterima oleh pemerintah, karena kalau tidak Internet terancam akan masuk ke masa2 “kegelapan”.. Dan sudah begini mungkin saya akan siap2 kembali ke era BBS saja… Apa kabar PCBoard, Wildcat, dll masih ada gak? **hiks**

Pemblokiran Situs Internet? Sekedar alternatif solusi

April 7th, 2008

Internet FilteredPagi ini saya baca artikel di Kompas yang berjudul Keseimbangan Baru Menghadapi Teknologi yang ditulis oleh RLP menanggapi surat perintah dari Menkominfo tentang pemblokiran situs yg memuat film Fitna kepada APJII.

Kejadian ini jadi mengingatkan saya kembali tentang hal serupa yang berawal saat awal2 Internet masuk ke Indonesia sekitar tahun 1995 di mana saat itu ISP sudah mulai menawarkan layanan PPP yg memungkinkan kegiatan web browsing dengan konten multimedia dapat dilakukan oleh orang2 awam.

Saat itu, Radnet tempat saya bekerja sering menerima “order” dari instansi terkait (saat itu departemen penerangan) untuk melakukan pemblokiran pada website2 tertentu dan website2 yang mengandung pornografi. Menurut Internet World Stats, populasi Internet dunia di 1995 baru 16 juta, dan saat ini sudah melonjak hingga 1,5 milyar manusia… Dan kalau dulu kita semua sudah lumayan direpotkan dengan urusan pemblokiran ini, kira2 bagaimana dengan hari ini?

Saya rasa secara umum Internet 13 tahun yang lalu dan hari ini tidak banyak berubah, dalam konteks partisipasi user kita mengenal konsep web 2.0 yg sering didengung2kan itu, namun lebih dari 15 tahun yang lalu, sebelum aplikasi berbasis protokol http seperti web browser populer di komunitas internet, forum Usenet merupakan aplikasi yang paling tinggi utilisasinya di Internet, itu bentuknya partisipasi user juga.

Dinamisme internet kita hari ini dilakukan oleh 1,5 milyar manusia yang memiliki pemikiran dan tindakannya masing-masing dan saling terhubung satu sama lain secara demokratis sehingga saling melengkapi, sehingga kita bisa lihat jutaan koleksi video di youtube, ensiklopedia di wikipedia, foto2 di flickr, dll. Kekuatan dari partisipasi user merupakan aset yang dikumpulkan oleh website2 terpopuler di dunia sehingga menjadi sebesar sekarang. Bahkan website berita lokal terpopuler di Indonesia, Detik.com memiliki hits tertinggi dari forumnya, yaitu 35%, lebih tinggi dari halaman news yg dibuat secara internal.

Menurut saya, akan lebih efektif dan efisien apabila pemerintah menggunakan kekuatan komunitas online kita sendiri untuk menyampaikan maksud dan himbauannya secara demokratis, bukan dengan pemblokiran yang saya jamin tidak akan berhasil selama google (dan semua search engine) tidak ditutup, atau sekalian seluruh link Internet Indonesia ditutup. 

Terlihat sekali betapa instansi pemerintah kita sangat membutuhkan atensi dan bantuan dari komunitas praktisi Internet (dalam hal ini blogger & hacker) mulai dari masalah edukasi (mereka harus rutin di-upgrade ilmunya), konsultasi telematika, pelaksanaan taktis dan evaluasi kebijakan2 yang telah dilaksanakan secara online.

Contohnya, untuk melawan penyebarluasan video Fitna, pemerintah dengan bantuan para blogger & hacker dapat melakukan beberapa hal, seperti:

  1. Memasang himbauan berupa banner di website2 komunitas dan komersil, seperti Kaskus, detik, web2 ISP, dan portal2 lokal lainnya.
  2. Membuat dan memasang widget berupa statement/petisi penolakan video tersebut yang dilakukan secara berantai di halaman blog masing2 blogger.
  3. Pengiriman himbauan ke milis2 dan groups2.
  4. Membuat dan memasang aplikasi penolakan di Facebook & Friendster dan dipasang oleh para member kita di sana.
  5. Secara rahasia dan pribadi, dengan koordinasi bersama BIN (atau instansi terkait lain) “memerintah” hacker (atau lebih tepatnya cracker) untuk menyusupkan pesan2 penolakan ke dalam website yang relevan di Belanda.
  6. Kalau perlu, kita buat video tandingan yang dapat digunakan untuk mendapatkan simpati masyarakat global seperti menunjukkan sisi2 positif umat muslim di dunia, tanpa harus menjelek2an agama lain.

Hal serupa juga bisa dilakukan untuk kampanye UU-ITE yg baru disahkan itu. 

Rugi kalo kita punya komunitas blogger yang sudah masuk ke Blog belt dunia, tapi kekuatannya gak dirangkul.

Buat rekan2 yang akan melakukan audiensi dengan Menkominfo hari ini, mudah2an dapat berjalan lancar, sehingga bisa menjadi forum klarifikasi atas keberadaan blogger & hacker kita dan juga bisa membantu penyelesaian masalah bangsa. Amin.

My Scanner in 1987

February 26th, 2008

Isi: Box scanner, manual & driver
Buku Manual Handy Scanner HS-2000
Handy Scanner HS-2000 tampak bawah
Handy Scanner HS-2000 tampak atas

I bought my first scanner in 1987, it called the Handy Scanner (HS-2000 from DFI), you have hold it down with your hand and scroll it down on the object surface. It only covers about half the width of A4 paper, so it’s a bit problematic of you need to scan a full document on that paper size. Our scrolling speed, if not consistent would also be a problem, faster scrolling would make the image longer than it should, vice versa. It is a 200DPI and monochrome scanner. 

My Computer in 1984

February 26th, 2008

Apple II
This is an old photo that I found recently and it shows my old Apple II that my father bought in 1982. It shown here with twin floppy disk drives and a monitor. The Apple II featured an integrated keyboard, color graphics (4 colors), sound & a plastic case.

The screen showed the final battle between the Karateka and the evil Akuma in order to save princess Mariko (my apology for the flash glare on the screen).

Perkenalan dengan Internet #4 (PPP dari Rumah)

February 20th, 2008

Trumpet WinsockSetelah diberikan akses PPP dari Ipteknet, saya mulai berkenalan dengan software Trumpet Winsock (tcpman.exe) yang tersohor itu. Di masa itu, saya ingat bill telfon rumah saya melonjak karena hampir selalu berada di depan komputer untuk online, terutama untuk saat IRC supaya bisa chatting dengan anak2 US dan Eropa.

Dengan akses PPP dari rumah saya jadi lebih intensif dari rumah, beberapa momen yang berkesan antara lain:

  • Rajin berbelanja online di Internet. Believe it or not, saat itu sangatlah mudah melakukan transaksi online dgn kartu kredit, contohnya saya sering beli buku2 O’Reilly langsung dari websitenya, hint book dari pc game yg sedang saya mainkan saat itu, beli t-shirt dan bahkan sempat memenangkan kuis online dari website the Rolling Stones yg sedang promosi album terbarunya Voodoo Lounge dan mendapatkan t-shirt & signed CD dikirim langsung ke rumah.
  • IRC. Saat itu ada satu irc client baru untuk windows yaitu WS-IRC yang didevelop oleh orang Indonesia, namanya Caesar M Samsi, nicknya di IRC adalah Maxima. Dia minta ke beberapa anak2 #bawel untuk melakukan beta testing software buatannya itu. Kalau gak salah, itu adalah irc client pertama di windows yg saya tahu, setelah itu baru muncul mIRC yg lebih terkenal hingga sekarang. Di awal tahun 1995, temen2 #bawel janjian mudik ke Jakarta, dan kita sempat mengadakan kopi darat IRC pertama di foodcourt Plaza Indonesia. Saat itu kita bikin t-shirt #bawel yang berisikan daftar nickname kita semua.
  • Usenet. Saat itu paling seru membaca pembahasan2 alot (atau flame) di forum2 kita tentang Timor Timur, antara kita dan orang2 portugal.. Kadang2 dari kita juga ada yg menulis di forum2nya orang portugal.
  • Web browsing. Saat itu bisa dibilang belum ada website tentang Indonesia yang bagus. Yg berakhiran domain .id hanya beberapa dan isinya statis saja, lalu website2 personal mahasiswa yang sedang studi di luar. Salah  satu yang bisa dianggap mulai niat isinya adalah website Mas Rahard yang berjudul Indonesian Homepage, padahal masih di host di domain Kanada. (Keciaaan deh loo..hehehe). Lalu, persisnya tahun berapa (mungkin 95-an), munculah website directory a’la Yahoo, tapi khusus tentang Indonesia yg beralamat di http://www.cs.utexas.edu/users/adison/cgi/bimasakti (Bimasakti) yang diciptakan oleh Adison Hana Wongkar, yg kuliah di Austin,TX. Itu merupakan salah satu sumber inspirasi saya hingga akhirnya saat di Radnet saya membuat website sejenis di http://www.indocenter.co.id yg sampai sekarang masih ada. Satu catatan unik tentang web directory seperti Yahoo!, Bimasakti & Indocenter, terdapat kategori Personal Homepage bagi kita2 para pelopor narsis-on-the-net dan biasanya paling populer.

Beberapa bulan setelah itu, sekitar akhir 1994, saya ingat di suatu pameran komputer di JHCC, Indonet launching untuk pertama kalinya. Saat itu servicenya baru sebatas terminal dial-up, belum SLIP/PPP dan kantornya masih di suatu rumah sederhana di Rawamangun. Yah, itulah cikal bakal penyebaran Internet di Indonesia. Karena dalam beberapa minggu, channel IRC dan Usenet mulai diisi oleh orang2 dari Indonesia, dan anak2 #bawel pada nanya ke saya, “bener ya, di Jakarta sekarang udah ada Internet?” Akhirnya, Indonesia terkonek ke Internet.

 Bersambung…

Perkenalan dengan Internet #3 (Ipteknet BPPT)

February 20th, 2008

Di bulan Juli 1994, tiba saatnya mahasiswa tingkat 3 untuk melakukan tugas Penulisan Ilmiah melalui kegiatan kerja praktek. Karena saya lagi doyan2nya nge-net, maka via Delphi, saya coba cari2 informasi tentang tempat2 KP yang yg relevan dengan hobby baru saya itu. Dari hasil riset online saya itu, ditemukan 3 tempat, yaitu di UI, tempatnya Pak Samik Ibrahim (Pak Ibam), ITB di tempatnya Pak Onno W Purbo dan di BPPT. Dari baca2 di Usenet, saya dapat info bahwa BPPT baru saja memasang dedicated link 64kbps di bawah naungan Ipteknet. Dari situ saya langsung membulatkan tekat untuk mencoba mengkontak mereka… bukan apa2… saya ngiler pingin nyoba link internetnya. hehehe.

Satu2nya contact person yg saya dapat di usenet adalah Bpk Samawi Samadikun (Mawan) selaku admin dari second level domain .go.id saat itu. Saya email ke beliau tentang rencana saya untuk melakukan riset tentang Internet di BPPT/Ipteknet. Beliau menyarankan saya untuk menulis proposal resmi ke Ketua Pusdiklat BPPT dan tembusan ke Koordinator Ipteknet (Ibu Finarya Legoh). Tanggal 3 Agustus proposal saya kirimkan, dan Alhamdulillah tanggal 18 Agustus surat persetujuannya saya terima via Pak Didin Mukodim, pembimbing PI saya di Gundar.

Hari pertama saya KP di Ipteknet, saya bertemu dengan para tim Ipteknet, Pak Firman Siregar, Pak Toto, Pak Mawan, Pak Antonius, dll. Hari itu saya dapat email baru, yaitu boyke@mimo.bppt.go.id dan untuk pertama kalinya saya mencoba yang namanya NCSA Mosaic, graphical web browser pertama di dunia, versi Xwindows dan beta-nya untuk Windows 3.11. Netscape Navigator (dulu: Netscape Mosaic) versi 0.9 Beta baru keluar 3 bulan kemudian.

Tugas yang dibebankan ke saya adalah re-desain website ipteknet, meng-compile engine webstatistik & mengeluarkan report website log ke html menggunakan bahasa C. Enaknya kerja terkonek dgn internet, semua itu saya bisa dapatkan dengan mudah di Internet..hehehe. Tugas itu sebenarnya dalam seminggu sudah selesai, cuma saya pura2 perlambat progressnya, supaya bisa berlama2 KP di sana :)

Selama sebulan KP di sana, waktu banyak saya habiskan untuk ke usenet (mengikuti serunya debat2 SARA yg muncul tiap hari di SCI dan ASCI) dan chatting di IRC. Karena saat itu saya punya akses ke freebsd terminal, maka saya bisa compile & install BOT2 IRC yg selama ini via Delphi tidak bisa saya lakukan. Aktifitas favorit saya di IRC saat itu adalah “berperang” dengan #warung milik pelajar malaysia dan men-takeover channel mereka saat “server split”. Tentunya kadang2 kita menang, kadang kita kalah. Satu kejadian kocak saat itu adalah saat kita berhasil men-takeover channel #warung, dan anak2 malaysia berhasil men-takeover channel #bawel, sehingga seharian kita “tukeran” channel.

Setelah sebulan KP di Ipteknet selesai, saya berhasil membujuk Pak Mawan untuk memberikan saya akun PPP guna melengkapi riset saya dgn mengakses Internet dari rumah.

Bersambung…

Perkenalan dengan Internet #2 (Delphi.com)

February 20th, 2008

delphi_logo_1997.pngdelphi_logo_1997.pngDelphi Internet merupakan perusahaan online services yg besar di US dan UK yang memiliki fasilitas Internet lumayan terlengkap. Perusahaan Online Services di awal 90-an sedang heboh2nya, contohnya American Online, CompuServe, Prodigy, dll, adalah suatu BBS besar yang memiliki konten internal yg sangat lengkap. Saat itu, karena Internet masih relatif baru (browser grafis pertama, ncsa mosaic baru keluar betanya di April 93), seluruh website yg ada di seluruh dunia dikumpulkan pun belum bisa menandingi kelengkapan isi dari konten internalnya AoL. Tapi dari konsepnya yang terlalu eksklusif tersebutlah, maka dalam beberapa tahun selanjutnya bisnis perusahaan Online Services mulai meredup dan banyak yg bertumbangan karena dilibas oleh kelengkapan dan gratisnya Internet.

Sekitar akhir 1993, saya mendaftarkan diri ke Delphi langsung menggunakan kartu kredit saya dan mengirimkan aplikasi via fax ke US. Tarif perbulannya saat itu adalah USD 14 dan 20 perbulan, yang membedakan adalah total waktu akses per bulannya. Saat itu 1 USD masih Rp. 2000, jadi masih cukup murah. Akun saya langsung aktif keesokan harinya go online ke Internet untuk pertama kalinya dengan akun boykeb@delphi.com … Eureka!!

Di menu internal Delphi saat itu ada promo buku yg berjudul Internet Basics (Steve Lambert & Walt Howe, Random House 1993) seharga USD 25,-. Saya iseng2 coba pesan buku itu secara online. Dua minggu kemudian bukunya tiba di rumah saya… Itu adalah transaksi e-commerce saya yang pertama.

Internet dilihat dari teknologi yang ada saat itu sangatlah kontras dengan hari ini. Saat itu yang namanya Internet website jumlahnya masih sangat terbatas, biasanya saya hanya browsing ke website2 universitas di US, karena mereka yang paling siap, itupun biasanya hanya berisi konten2 akademis.. Sangat membosankan, dan saya hanya mengunakan textbase browser (Lynx) yang tidak ada gambar sama sekali.

Saat itu, fasilitas Internet yang lebih lengkap dari www (dan sering saya gunakan) adalah Gopher dengan fasilitas seachingnya Veronica. Fasilitas lainnya yang sering saya gunakan adalah Forum diskusi usenet: Soc.Culture.Indonesia, Alt.Soc.Culture.Indonesia, Alt.Sci.Tech.Indonesian dan chatting IRC di channel #bawel.

Selain saya sendiri, beberapa user Indonesia yang juga tergabung di Delphi adalah Pak Adisasta, Pak Mujaya Hertadi dan Pak Izak Jenie.

Bersambung….

Perkenalan dengan Internet #1 (Modem & BBS)

February 20th, 2008

Foto saya yg disesuaikan dgn zamannya (tahun 1992)Setelah mencoba memulai blogging baru2 ini dan setelah mencoba beberapa posting awal di blog ini, saya merasa makin mantap untuk menulis hal2 yg menurut saya bermuatan sejarah, tentunya yg berkaitan dengan Internet dan IT secara umum. Tujuannya, supaya saya punya catatan historis pribadi dan sukur2 ada manfaatnya buat orang lain.

Ini tulisan seri #1 dari sekian (belum tau di seri berapa selesainya), sengaja di pisah2 supaya lebih nyaman dibacanya. So here goes: 

Berbicara tentang internet rasanya gak bisa lepas kaitannya dengan alat yang bernama modem. Saat itu sekitar pertengahan 1992, saya sbg mahasiswa STMIK Gundar tingkat 2 bersama beberapa teman2 sering bolak-balik naik kereta Pd.Cina - Jkt Kota di antara kuliah kosong. Sampainya di kota kita suka window shopping ke Orion, Glodok (gedung hijau). Pemilik toko langganan kita, koh Hans udah beberapa kali ngeracunin saya untuk beli fax/modem internal 2,4 kbps untuk konek ke BBS (padahal dulu saya gak ngerti BBS itu apa) dan kirim/terima fax.

Karena saya belum melihat manfaatnya, maka tawarannya beliau saya “cuekin” sampai hampir 1 tahun… yaitu di awal 1993, saat itu udah muncul modem 9,6 dan 14,4 (terbaru) dan kebetulan kantor ortu butuh fax baru. Jadi saya belilah waktu itu modem yg lumayan hi-end saat itu (karena dimodalin ortu), yaitu fax/modem Dynalink Pocket 14,4 v32.bis.

Waktu beli modem itu, belum kepikiran akan digunakan untuk online sama sekali. Taunya hanya untuk fax, waktu itu dengan software Wincom dan Procomm Plus di Windows 3.11. Suatu hari, saya baca di majalah info komputer terbaru ada artikel tentang modem & bbs, di situ tercantum nama dan nomor telfon beberapa bbs di Jakarta. Saat itu saya iseng coba2 masuk satu2 ke sana, antara lain: Thunder, Barong, Ganesha, Jaknet, Hangtuah, Pusdata dan Clarissa.

Saya kebetulan dekat duluan dengan Leonardus Leonardi (sysop Thunder) karena dia kakak kelas saya di Gundar dan pernah ketemu beberapa kali di gedung Gramedia (dia penulis buku / programmer di Elex Media dan saya anggota di komunitas majalah Info Komputer). Setelah itu saya mulai berkenalan dengan sysop2 dan user2 BBS lainnya dan ikutan di beberapa forum Bemonet, dan sempat diangkat menjadi moderator forum Internet di BBS Ganesha milik Heryudi Ganesha. Saya tetap aktif di bemonet di periode 1993 s/d 1995-an.

Selain Thunder, saya (dan juga Indra) sempat diberikan kehormatan oleh W.U.Prayitno (SysOp PrAccess) untuk mendapatkan akses sebagai point Bemonet melalui BBSnya, dengan kode 55:21/11-4. Dari situ kita jadi makin menggila melakukan junking ke BemoBatavia, dan channel2 lainnya karena kemudahan download/upload message2 Bemonet.

Detil tentang BemoNet sendiri bisa di dapat di halaman yg di manage Indra dan yang ada juga halaman yg muncul pertama di Google buatan Pak Ibam. Pak Ibam (Rahmat M Samik Ibrahim) itu dedengkotnya Internet Indonesia, karena beliau yang dulu memegang administrasi top level domain .id (Indonesia), walaupun hanya menggunakan koneksi UUCP dari UI ke Australia.

Kira2 di akhir 1993, selaku anggota komunitas majalah InfoKomputer, saya dapat undangan dari majalah tersebut untuk mengikuti seminar tentang BBS & Internet (saat itu pengetahuan saya tentang Internet hanya sebatas membacanya dari majalah2 luar seperti PC Magazine, dsb). Di situ pembicaranya adalah Pak Adisasta, sysop dari Clarissa. Saat itu Clarissa adalah BBS komersil yg cukup terkenal, tapi saya kurang tertarik bergabung di bbs tsb karena terlalu komersil dan tidak terhubung dengan bemonet.

Setelah demo bbs Clarissa selesai, sesi seminar berlanjut ke tema Internet dan Pak Adisasta melakukan demo akses internet melalui dial-up dengan terminal vt100 ke nomor modem PT Gratika Informatika Nusantara (anak perusahaan telkom) yang merupakan partner dari US-Sprint (penyedia layanan koneksi data di US). Setelah modem berhasil handshake dan connected, muncul prompt yang bisa diisi dengan ID dari beberapa perusahaan Online Service yang menggunakan jasa US-Sprint tersebut. Contohnya: delphi (akses ke Delphi Internet), cix (Compuserve), aol (America Online), dll.

Karena Pak Adisasta memiliki akun di Delphi, maka dia mendemokan fasilitas yang ada didalamnya, seperti web (versi text menggunakan Lynx), gopher, usenet, dan the ever-popular irc. Yang paling menyenangkan adalah koneksi kita menggunakan pulsa lokal saja. Dari situ, saya punya tekat bulat untuk mencoba berlangganan Delphi secara langsung.

Bersambung….

Manusia Indonesia & Parttime Website

February 17th, 2008

As I browsed the net for old archives (from web.archive.org), I found what used to be one of the earliest blogroll called “Manusia Indonesia”, listed on Mas Rahard personal web at manitoba.ca. There was only 40 personal websites existed by then (around mid to late 1994). Here it goes:

__________________________________________________________________________
                                       
                        MANUSIA INDONESIA (INDONESIANS) 
__________________________________________________________________________
                                       
   
   
   Indonesia is the fifth most populous country in the world (close to
   200 millions). There are more than 300 tribal-ethnic groups. Over 50%
   of the population live on the island Java.
   
   Here is a list of some Indonesians’ homepages. The list is sorted
   based on the first name (the Indonesian way). If you want your name to
   be added on this list, drop me a mail. (I am a busy person, so I may
   not be able to handle your request promptly.)
    1. Adison Hana Wongkar
    2. Agus Wardhana
    3. Alvin Ismatullah Gani
    4. Andre P. Siregar.
    5. Armein Langi.
    6. Ary Sulistyono
    7. Bambang Lusmiadi
    8. Bernadus Sudarmo
    9. Boyke Bader (only available 8:00 to 16:00 WIB Monday to Friday)
   10. Budi Rahardjo
   11. Deni Indarto
   12. Chilmar
   13. Denny Wijaya
   14. Eka Ginting
   15. Fidyawati Pangjaya
   16. Firman Hadi
   17. Hammam Riza Yusuf
   18. Harry Harjono
   19. Herdarmadi Kuswandito Utomo
   20. Indrajana Azali
   21. Jeff Rufinus
   22. Judianto Sidik
   23. Kumoro Wisnu Wibowo
   24. Liono.
   25. Luky Yusgiantoro
   26. Louis Larry
   27. Mustiantono
   28. Nidjo Sandjojo
   29. Rahmat M. Samik Ibrahim
   30. Rizal Hikmawan
   31. Saptaji Basuki
   32. Sumedi Nugraha
   33. Sunarto Jeh
   34. Taufik
   35. Utomo Utojo
   36. Wira Susilo
   37. Witty Ganda
   38. Yos Adiguna Ginting
   39. Yudha Herwono
   40. PPIA and INDOZ-NET 
        
    
_________________________________________________________________ 
   
Most of them were students from abroad and have access to create their own websites from their faculty, there was no geocities or any other free homepage services yet. Personal websites that physically located in Indonesia, I think, were only available from bppt, ui & itb. BPPT at the time was the first governmental organization that has 64 kbps dedicated link to the internet (via Indosat-Sprint), established on May ‘94. My website (http://exeline13.bppt.go.id) was actually hosted on my working PC (windows 3.11 with ncsa-httpd 1.3 installed) located on the 1oth floor, BPPT building.

The interesting thing is, since the PC was only turned on while I work, I made a personal remark to Mas Budi that the website will “only available 8:00 to 16:00 WIB Monday to Friday”, that was the fact, but I didn’t intended to let everyone else know about it, coz it would sound silly having a “parttime website” that has working hour. But then he did put the note on anyway… So, it went on for a year or so, until got my own website while I worked at Radnet.